Cegah Radikalisme Digital, Komjen (Purn) Rycko Amelza Tekankan Literasi Kritis Generasi Muda di UKSW Salatiga

waktu baca 3 menit
Sabtu, 3 Okt 2026 02:00 12 Redaksi

Polda Jateng – Kota Salatiga | Penyebaran radikalisme dan ekstremisme kini berubah polanya seiring perkembangan teknologi digital. Jika dahulu paham kekerasan disebarkan lewat pertemuan langsung dan aksi terbuka, sekarang propaganda dikemas dalam berbagai bentuk konten digital yang lebih mudah diakses, dibagikan, dan diterima masyarakat, khususnya generasi muda.

Isu itu menjadi bahasan dalam Kuliah Umum bertema “Merawat Kebhinekaan dan Menjaga Persatuan” yang digelar di Balairung Utama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Kamis (1/10/2026) pukul 09.00 WIB.

Kegiatan tersebut dihadiri Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi UKSW Dr. Ir. Sri Suwartiningsih, http://M.Si., serta Komjen (Purn.) Prof. Dr. Rycko Amelza Dahniel, http://M.Si. beserta tim yang hadir sebagai pembicara dengan materi “Merawat Kebhinekaan, Menjaga Persatuan”.

Dalam paparannya, Komjen (Purn.) Prof. Dr. Rycko Amelza Dahniel, http://M.Si. selaku Kasatgas Pusat Studi Terorisme membahas perkembangan ancaman terorisme dan perubahan pola radikalisme di tengah kemajuan teknologi informasi.

“Terorisme merupakan ancaman yang terus mengalami perubahan, baik dari sisi metode, sasaran maupun pola penyebaran ideologinya,” terang Komjen (Purn.) Prof. Dr. Rycko Amelza Dahniel, http://M.Si.

Sebagai pesan utama dalam kuliah umum itu, ia menjelaskan perkembangan teknologi telah membawa perubahan signifikan pada pola radikalisme dan ekstremisme di Indonesia.

“Jika sebelumnya ancaman lebih banyak terlihat melalui aksi kekerasan secara langsung, seperti serangan bom maupun aksi bersenjata, saat ini penyebaran paham ekstrem dapat berlangsung secara lebih tersembunyi melalui ruang digital. Media sosial kemudian dimanfaatkan sebagai sarana propaganda, penyebaran ideologi, indoktrinasi virtual hingga perekrutan anggota,” terangnya.

Lebih lanjut dijelaskan perubahan tersebut menunjukkan ancaman radikalisme tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan yang terlihat. Ancamannya bisa dimulai dari proses memengaruhi cara berpikir dan membentuk pandangan seseorang secara bertahap.

“Konten kekerasan, kebencian dan intoleransi yang dikonsumsi secara berulang berpotensi memengaruhi cara berpikir, emosi dan perilaku. Karena itu, kemampuan generasi muda dalam memahami dan menyaring informasi menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan terhadap paparan ekstremisme,” ungkap Komjen Pol (Purn) Rycko.

Dalam paparannya, Komjen Pol (Purn) Rycko menekankan menghadapi radikalisme dan ekstremisme tidak cukup hanya melalui penindakan setelah terjadi pelanggaran. Pencegahan lewat pendidikan dan literasi juga menjadi bagian penting untuk membangun ketahanan generasi muda.

“Generasi muda perlu dibekali kemampuan memahami informasi, membedakan fakta dan opini, berpikir kritis serta tidak mudah menerima suatu informasi hanya karena dikemas secara menarik. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai proses akademik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun daya tahan masyarakat terhadap pengaruh ideologi kekerasan dan intoleransi,” imbuhnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol. Yuliyanto menegaskan menjaga kebhinekaan dan persatuan merupakan tanggung jawab bersama, terutama di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital.

“Kolaborasi antara Polri, perguruan tinggi, keluarga dan masyarakat sangat penting untuk membangun ketahanan generasi muda. Melalui edukasi, literasi digital dan dialog yang terbuka, kita dapat bersama-sama menjaga kebhinekaan sekaligus memperkuat persatuan dan keutuhan NKRI,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA